windermereboatshow.com – Indonesia saat ini berada dalam situasi ketegangan politik global, di mana tantangan utama bukan lagi ancaman perang nuklir, melainkan pertarungan dalam proxy war yang melibatkan energi dan logistik. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia semakin menyadari bahwa dalam geopolitik modern, pengendalian sumber daya seperti energi, air, dan jalur logistik menjadi sangat krusial.
Pakar Geopolitik, Bungas T Fernando Duling, menjelaskan bahwa strategi Presiden Prabowo yang merujuk pada Dasasila Bandung adalah langkah cerdas di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. “Indonesia berusaha menjadi negara penyeimbang yang mandiri, tidak terjebak dalam salah satu blok,” ungkap Fernando pada hari Rabu (11/3).
Sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia, Indonesia berfokus pada penguatan Domestic Market Obligation (DMO) guna memastikan kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi. Kebijakan ini, tambahnya, tidak hanya soal aturan perdagangan, melainkan juga sebagai senjata geostrategis untuk menghadapi tantangan global.
Dengan visi listrikisasi sebagai pilar kemandirian, pemerintahan Prabowo bertujuan mengurangi ketergantungan pada BBM impor dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri. “Ini adalah langkah defensif dan ofensif dalam konteks ekonomi global,” tegasnya.
Lebih lanjut, kebijakan pembangunan jalur rel Trans-Kalimantan dan luar Jawa diharapkan mampu mengalihkan fungsi kereta api dari transportasi penumpang menjadi angkutan berat, yang vital untuk distribusi sumber daya alam. Fernando menilai bahwa keberhasilan PT KAI dan KAILOG dalam menerjemahkan visi ini akan memastikan keadilan distribusi serta memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Prabowo menegaskan pentingnya kedaulatan energi dan telah membentuk satuan tugas khusus untuk mengawasi hal tersebut. “Siapa yang menguasai listrik dan logistik, dialah yang memegang kunci kedaulatan,” pungkas Fernando.