windermereboatshow.com – Kementerian Luar Negeri China mengklaim bahwa nelayan Filipina terlibat dalam manuver provokatif di Laut China Selatan, yang diduga menyebabkan insiden terbaru di kawasan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan dalam konferensi pers di Beijing, bahwa kapal-kapal penangkap ikan Filipina dengan sengaja berlabuh di laguna Xianbin Jiao dan melakukan manuver berbahaya meskipun telah diperingatkan oleh China.
Xianbin Jiao, yang dikenal sebagai Sabina Shoal, terletak sekitar 72 mil laut dari Pulau Palawan dan 160 mil laut dari Pulau Kalimantan. Guo menegaskan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari Nansha Qundao, yang diakui China sebagai wilayah kedaulatannya. Ia menyebut tindakan Filipina sebagai provokatif dan meminta pemerintah Manila untuk menghentikan semua aksi yang dianggap melanggar kedaulatan China.
Tanggapan terhadap insiden tersebut datang dari Amerika Serikat, yang mengutuk tindakan agresif China yang menyerang nelayan Filipina di dekat Sabina Shoal. Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Thomas Pigott, menyatakan bahwa tindakan tersebut membahayakan mata pencaharian nelayan Filipina dan mendukung sekutu Filipina dalam menghadapi provokasi dari China.
Sebelumnya, pihak penjaga pantai Filipina melaporkan bahwa tujuh kapal penjaga pantai China menyerang sekitar dua lusin kapal nelayan mereka, menggunakan meriam air dan manuver agresif yang menyebabkan cedera. Penjaga pantai Filipina juga menyerukan agar China mematuhi standar perilaku internasional untuk menghindari risiko bagi kehidupan nelayan.
Ketegangan di Laut China Selatan terus meningkat meskipun ada upaya diplomatik yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kesepakatan antara ASEAN dan China untuk menyelesaikan sengketa secara damai. Namun, hingga kini, belum ada solusi yang dicapai di antara negara-negara yang memiliki klaim tumpang tindih di kawasan tersebut.