windermereboatshow.com – Indonesia berpeluang untuk mengusulkan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar membuat garis demarkasi atau blue line di wilayah konflik Israel-Palestina. Pernyataan ini disampaikan oleh Muhammad Syaroni Rofii, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, pada Rabu (24/9).
Syaroni menjelaskan bahwa langkah ini dapat dilakukan sembari menunggu solusi dua negara yang disepakati oleh semua pihak. Menurutnya, Indonesia memiliki kapasitas untuk memperkuat peran PBB di Gaza, terutama melalui pengiriman pasukan penjaga perdamaian. Selain itu, Indonesia juga dapat berperan dalam membuka blokade, sehingga bantuan kemanusiaan dapat masuk dengan lebih lancar ke wilayah tersebut.
Dalam konteks ini, Syaroni juga mengomentari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pemimpin Arab yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Ia menilai pertemuan tersebut merupakan bagian dari tradisi di Majelis Umum PBB, namun digelar secara mendadak dan di luar proses formal. Hal ini mengkhawatirkan, sebab dampaknya terhadap proses perdamaian mungkin tidak dapat diukur.
Syaroni menekankan pentingnya adanya dorongan dari negara-negara yang hadir untuk mendorong AS mengubah kebijakan yang mendukung Israel. Ia menambahkan bahwa hasil pertemuan tersebut sangat bergantung pada seberapa jauh Trump mau mendengarkan masukan dari para pemimpin Arab.
Blue line sendiri adalah garis yang ditetapkan oleh PBB untuk memisahkan pihak-pihak yang bertikai, sebagai langkah awal untuk menghentikan kontak senjata sebelum pengiriman pasukan penjaga perdamaian.