windermereboatshow.com – Otoritas Nepal mengerahkan personel militer pada Senin (8/9) setelah terjadi bentrokan berdarah dalam protes anti-korupsi dan pemblokiran media sosial. Insiden ini menyebabkan 19 nyawa melayang dan lebih dari 347 orang terluka, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.
Berdasarkan laporan harian setempat, tindakan tegas ini diambil setelah para pengunjuk rasa menerobos area terlarang dan memasuki kompleks Parlemen Federal, yang mengakibatkan pemberlakuan jam malam di Kathmandu. Menteri Dalam Negeri Nepal, Ramesh Lekhak, mengundurkan diri malam itu juga, mengakui tanggung jawab terkait penganiayaan selama unjuk rasa.
Rumah sakit-rumah sakit di Kathmandu melaporkan setidaknya 17 orang meninggal dunia akibat peluru tajam, sementara dua korban lainnya tewas setelah dirawat di rumah sakit di Itahari. Dengan jumlah korban yang terus meningkat, pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai jatuhnya korban jiwa dalam aksi tersebut.
Protes yang dipimpin oleh kalangan muda yang dikenal sebagai “Generasi Z” ini mencakup berbagai kota, termasuk Pokhara, Butwal, dan Biratnagar. Para demonstran mengutuk praktik korupsi di pemerintah serta pemblokiran media sosial yang baru-baru ini diterapkan. Larangan terhadap platform besar seperti Facebook, Instagram, dan YouTube diberlakukan setelah pengelola media sosial gagal mendaftar sesuai regulasi yang ditetapkan pemerintah, yang memberikan waktu tujuh hari sejak 28 Agustus.
Walaupun pemerintah menjanjikan pencabutan larangan setelah pendaftaran, keputusan ini mendapat kritik dari partai oposisi. Insiden ini menunjukkan ketegangan yang melanda Nepal seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi politik dan sosial saat ini.